Post Top Ad

Post Top Ad

Post Top Ad

Beauty

Recent

About Us

Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, November 26, 2016

Hari Penghakiman Manusia

          Assalamu’alaikum wr. wb
          Haloo, Al-reader semua. Pada pagi hari yang cukup mendung ini, Al akan membagikan sajak lagi, nih. Didampingi segelas kopi hangat yang membuat tubuh semangat dan membuat kedua mata melek, kali ini Al akan memosting tulisan terbaru Al. Mungkin sudah cukup lama Al tidak memosting tulisan tentang sajak, ya. Pasti sudah banyak yang rindu pada sajak yang Al buat, nih (mode narsis : ON). Al juga sudah sangat rindu untuk membuat dan memosting tentang sajak lagi. Al merasa ada sesuatu yang hilang dan kurang ketika Al tidak mencipta puisi. Entah itu perasaan apa, tetapi mencipta puisi dan membagikannya kepada Al-reader semua mungkin telah menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan untuk Al lakukan.
Puisi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi diri Al dan disitulah Al merasa ada sebuah dorongan (mungkin juga kewajiban) untuk menyiarkannya secara luas. Mengapa hal ini bisa Al rasakan? Karena Al yakin bahwa di dalam setiap sajak atau pun puisi yang tercipta pastilah ada pesan dan amanat yang tersirat. Pesan dan amanat inilah yang Al siarkan kepada Al-reader semua. Insyaallah, setiap puisi dan postingan yang Al bagikan di blog ini merupakan bentuk lain pahala bagi Al (yang membuat) dan bagi Al-reader semua (yang membaca). Aamiin.

          Baiklah, sebelum kita masuk dalam pembahasan inti tentang sajak yang Al ciptakan kali ini, perkenankanlah untuk Al bertanya kepada Al-reader semua. Mungkin pertanyaan yang Al akan sampaikan ini terdengar sedikit aneh dan mungkin juga terdengar tidak sopan bagi sebagian orang, ya. Pertanyaan yang Al sampaikan adalah, Sudahkah kita siap untuk mati? Terdengar tidak biasa bukan pertanyaan di atas, hanya beberapa kata namun dampaknya sangat besar untuk kita semua. Mengapa Al tanyakan hal semacam itu dalam tulisan ini? Itu hanya untuk mengingatkan kita saja, tidak ada maksud lainnya kok. Kita tentu sering mendengar pertanyaan tersebut dalam sebuah ceramah dan dakwah tentang keagamaan, tetapi kita juga sering mengabaikannya dan melupakannya seakan itu hanya sebuah pertanyaan retoris yang sudah kita ketahui jawabannya secara pasti. Tentu Al yakin, bahwa sebagian dari kita ada yang menganggap kematian itu adalah sebuah hal yang wajar-wajar saja. Memang tidaklah salah anggapan tersebut, tetapi kematian bukanlah hal sewajar yang dimaksudkan itu.
          Kematian memang akan dirasakan oleh setiap makhluk yang bernyawa, kematian memang akan dihadapi oleh setiap makhluk hidup ciptaan-Nya. Tetapi dengan pernyataan singkat tersebut bukan berarti kita bisa menyamakan kematian seseorang dengan kematian seekor binatang atau pun kematian sebuah tumbuhan. Ada hal yang sangat mendasar yang membedakan antara kematian manusia dengan makhluk bernyawa lainnya. Tentu kita tidak bisa serta merta menyamakan kematian setiap makhluk, karena ada hal yang mendasar yang membedakan setiap kematian tersebut. Apa hal mendasar yang Al maksud itu? Hal mendasar yang Al maksud adalah kita sendiri. Kita sebagai manusia yang memiliki akal dan budi, memiliki kewajiban untuk melakukan hal-hal yang diperintah-Nya serta berkewajiban untuk meninggalkan semua larangan-Nya adalah hal yang mendasar yang membedakan kita sebagai manusia dengan hewan dan tumbuhan lainnya.

          Ketika hewan dan tumbuhan mati, mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupannya karena mereka tidak diberi kemampuan untuk menentukan mana hal yang salah dan mana hal yang benar dalam bertindak semasa mereka hidup. Hewan dan tumbuhan hanya dibekali naluri oleh-Nya untuk bertahan hidup. Mencari makan, bernafas, minum, dan hal-hal mendasar lainnya untuk sekadar memertahankan kehidupan. Tentunya sangat berbeda dengan manusia yang diberikan akal dan budi oleh Tuhan. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan-Nya, bahkan lebih sempurna dan lebih mulia dibandingkan dengan malaikat. Hewan dan tumbuhan bergerak karena nalurinya; malaikat bertindak karena adanya perintah dari Tuhan dan tidak akan pernah menolak; sedangkan manusia berfikir, berucap, dan bertindak berdasarkan atas akal budinya. Itulah yang menyebabkan manusia lebih sempurna dan lebih mulia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

          Seperti yang telah Al sedikit singgung di atas, bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang paling sempurna di atas makhluk lainnya. Dalam artian jika kita bisa menggunakan akal dan pikiran sebaik mungkin. Kita dibekali kemampuan untuk melakukan sebuah hal atas dasar kehendak diri sendiri, tanpa adanya paksaan dari luar. Ketika kita bisa menggunakan pikiran yang kita miliki semaksimal dan sebaik mungkin, kita benar-benar merupakan makluk paling sempurna dan paling mulia di atas makhluk lainnya. Namun, manusia bisa menjadi makhluk paling buruk (bahkan melebihi setan) ketika manusia tersebut tidak bisa menggunakan akal pikirannya dengan baik dan cenderung mengarah pada hal-hal yang menimbulkan kesalahan. Dewasa ini sudah banyak contoh orang yang bahkan tidak menggunakan akalnya untuk bertindak. Mereka merusak, membunuh, menghancurkan, dan melakukan perbuatan negatif lainnya tanpa berfikir dampaknya terlebih dahulu. Mereka melakukan hal-hal itu semata-mata hanya untuk memenuhi keinginan nafsunya yang berlebihan. Sehingga setiap perbuatan yang mereka lakukan bukannya bermanfaat dan menjadi contoh bagi orang lain, melainkan hanya membuat kerugian semakin bertambah besar dampaknya.

          Manusia diciptakan oleh Tuhan dibekali akal pikiran dan juga nafsu. Kita telah mengetahui bahwa akal adalah modal utama kita hidup sebagai penghuni bumi. Kita hidup bukan hanya semata-mata untuk makan saja, tetapi kita juga diberikan posisi yang mulia yaitu sebagai khalifah. Manusia diperintahkan untuk menjaga keadaan alam tetap seimbang, manusia juga diberikan kemampuan untuk membuat setiap keadaan menjadi lebih baik, serta manusia juga berkehendak untuk menetapkan sebuah keputusan berdasarkan akal pikirannya. Ketiga hal tersebut merupakan hal-hal yang penting untuk dilakukan oleh seorang khalifah. Disamping itu juga, khalifah juga memiliki kewajiban untuk menyegerakan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan kematian manusia tidak hanya sekadar ‘mati’ saja, tetapi juga ada hal-hal yang perlu dipertanggungjawabkan berkaitan dengan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
          Tentunya untuk setiap orang yang menjalankan tugasnya sebagai khalifah dengan baik, kematiannya adalah awal kebaikan bagi dirinya yang tidak ada akhirnya (surga). Tetapi akan sangat berbeda keadaannya bagi manusia yang telah mati yang hidupnya hanya dipenuhi dengan nafsu. Orang-orang seperti itu dalam kehidupannya hanya menjadikan nafsunya (uang, kekuasaan, dsb) sebagai tujuan utama, tanpa berfikir bahwa mereka juga akan mati dan meninggalkan semua harta yang mereka miliki di dunia. Mereka diberikan akal pikiran, tetapi mereka enggan untuk menggunakannya. Nafsunya terlalu besar dan menutupi cara pikirnya yang jernih berdasarkan akal dan juga hati. Mereka tidak akan pergi menuju ke tempat yang sama dengan khalifah yang melaksanakan kewajibannya dengan baik di dunia, tetapi mereka akan pergi ke sebuah tempat penuh dengan penyesalan dan kesia-siaan (neraka). Tentunya kita semua tidak ingin menjadi manusia yang hanya berfikir tentang nafsu saja, melainkan juga kita harus bisa menjadi manusia yang menggunakan akal pikirannya dengan sebaik mungkin. Semoga kita semua dijauhkan dari keburukan dan didekatkan kepada kebaikan. Aamiin.

          Masih berkaitan dengan kematian, pada paragraf ini dan seterusnya akan membahas sedikit tentang kematian juga. Namun, kali ini yang akan dibahas adalah kematian seluruh makhluk dan juga alam semesta seluruhnya. Ya, itulah kiamat. Walaupun kematian makhluk juga disebut dengan kiamat (kiamat sugra = kecil), kematian seluruh makhluk juga merupakan bentuk kiamat lainnya (kiamat kubra = besar). Mungkin ada sebagian dari kita yang menyebutnya dengan Hari Penghakiman. Yaitu hari ketika setiap jiwa manusia beserta seluruh makhluk dan juga alam semesta ciptaan-Nya akan ‘diakhiri’. ‘Diakhiri’ dalam kalimat tersebut mengandung arti kematian dan kehancuran secara menyeluruh, tiada makhluk yang akan hidup kecuali Dzat Yang Mahahidup.
Lalu Al akan bertanya lagi kepada diri sendiri dan kepada Al-reader semua, nih, Sudahkah kita siap untuk menghadapinya? Dan sekali lagi, itu merupakan pertanyaan retoris yang sering ditanyakan dalam ceramah dan dakwah keagamaan. Walaupun Al golongkan kedua pertanyaan di atas merupakan  bentuk dari pertanyaan retoris, tentunya jawabannya akan berbeda setiap orangnya. Mungkin ada sebagian dari kita yang menjawab kedua pertanyaan di atas dengan, “Ya, saya telah siap.” Tetapi dari jawaban tersebut apakah ada buktinya? Yang menyatakan secara jelas bahwa kita telah siap untuk menghadapi kematian tersebut. Yang menyatakan dengan jelas bahwa kita mati dan langsung akan masuk dengan mudah ke dalam surga. Bukankah ada kemungkinan setiap amalan yang telah kita perbuat tidak diterima oleh Tuhan? Bukankah juga ada keraguan di dalam hati atas semua hal itu? Setiap dari kita pastinya pernah merasakan keraguan seperti itu, entah itu sering atau pun jarang. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut pastinya akan berkecamuk dalam hati dan pikiran kita semua. Amalan yang kita perbuat harus murni hanya mengharap ridho dari Tuhan, tidak mengharap pujian atau pun uang dari manusia. Tidak juga dicampuri dengan keinginan menguasai atau pun juga disertai dengan rasa selalu benar.

          Disisi lain ada juga sebagian dari kita yang menjawab kedua pertanyaan di atas dengan jawaban, “Belum, saya belum siap.” Lalu timbul pertanyaan lainnya, Kapankah kita siap menghadapinya? Sedangkan waktu terus berlalu dan tanpa henti menggerus sisa umur kita. Dan waktu adalah sebuah hal yang tidak akan pernah berputar berbalik arah dan merupakan hal yang di luar kekuasaan dan kendali manusia. Tentunya dengan takdir dan garis kehidupan yang telah ditentukan oleh Tuhan semacam itu, pastilah membuat banyak dari kita akan berfikir ulang tentang kehidupan yang telah dijalani. Sebagian besar dari kita masih sering lupa berkaitan dengan hal ini, karena kita masih ‘mengagungkan’ kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan setelah kematian, yaitu akhirat.
          Sedikit pembahasan di atas bukanlah cara Al untuk menakuti Al-reader semua, apalagi bermaksud mengancam Al-reader, tentunya hal itu tidak pernah muncul dalam pikiran Al. Al semata-mata hanya ingin mengingatkan kepada kita semua (terutama diri Al sendiri) bahwa kehidupan dunia merupakan kehidupan yang ‘menipu’ kita untuk lupa dengan adanya kehidupan akhirat. Dunia ini hanya persinggahan sementara yang membuat kita ‘tertipu’ dan menganggap bahwa dunia inilah segalanya. Kita sebagai manusia hanya perlu untuk berpegang pada petunjuk dan pedoman yang diturunkan-Nya. Pedoman inilah yang akan mengarahkan kita kepada kebaikan dan menghindarkan dari segala ‘tipuan’ yang ada di dunia.

          Seperti yang telah Al informasikan di awal tulisan ini, yaitu Al akan membagikan sajak. Sajak kali ini tentunya masih berkaitan dengan pembahasan di atas, yaitu tentang adanya kiamat yang pastinya akan terjadi (entah kapan waktunya). Al hanya berharap dengan adanya sajak yang Al bagikan kali ini bisa menjadikan motivasi bagi kita semua untuk selalu mengingat bahwa waktu kita di dunia ini tidaklah banyak. Memotivasi agar kita selalu mendekat pada kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan yang ada. Dengan waktu yang sangat terbatas yang kita miliki di dunia ini seharusnya kita bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin, tidak boleh membuang-buang waktu hanya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Kita harus selalu ingat bahwa kita hidup, menjalaninya, dan mengakhirinya karena Tuhan. Tidak ada bentuk alasan yang lebih tinggi dari Tuhan.
          Berikut ini sajaknya. Good reading, all.J


Menuju Hari Penghakiman
Fahd Al Fauzi

Pada sebuah mesin penghitung yang terus berdetak
Berputar seakan mencari sebuah tujuan abstrak
Pada setiap jarum yang menunjuk jelas
Perlahan bergerak tanpa rasa berpihak
Dengan inti tak pernah berpindah sisi
Membuat hati gundah dalam sanubari
Segalanya serasa tiada ujung tanpa henti
Layangkan jiwa dalam udara, sampai atap langit ketujuh
Terlupa amanat dalam buku tebal di pojok ruang
Bersama pesan sobat lama yang t’lah terkubur jauh dalam ingatan

Demi kokohnya saka zaman yang menjulang
Pastilah tergerus habis oleh masa, bak batu perlahan memasir
Hilang tanpa bekas, tercetak kosong dalam sejarah
Wahai sekalian, perhatikanlah
Bahwa waktu pun ‘kan lenyap tersapu waktu
Bahwa masa pun ‘kan lenyap tersapu masa
Yaitu saat penyangga langit runtuh menimpa bumi
Dimana sakit jeritan terasa hampa menyentuh tubuh
Dan ketika lemahnya hati terpenggal takdir
Itulah wahai, Hari Penghakiman


Banyumas, 12 Juli 2016

Tuesday, September 27, 2016

Sajak Dalam Sepi



Source image : kompasiana.com
          Kesendirian adalah hal yang paling dekat dengan kehidupan setiap manusia. Al-reader mungkin tidak percaya bahwa kesendirian sangat dekat tempatnya dengan hati. Banyak orang yang tidak bisa hidup dalam kesendiriannya sehingga tersesat dalam kesepian. Hal inilah yang membedakan antara kesendirian dan kesepian.

          Dan masih banyak orang di luar sana yang menganggap hidup dalam kesendirian merupakan sebuah masalah. Padahal kita semua sudah tahu dari penjelasan singkat di atas bahwa kesendirian dan kesepian itu merupakan dua hal yang berbeda. Kesendirian adalah tempat dimana anda bisa merasakan segala sesuatunya secara jujur, sedangkan kesepian adalah tersesatnya hati dalam kesendirian. Jadi, Al tegaskan kesendirian dan kesepian itu adalah hal yang berbeda.

                                                           Source image : digaleri.com
          Memang sangat diperlukan kebaikan hati agar kita tidak tersesat dalam kesendirian. Semakin baik hati seseorang menandakan bahwa ia akan lebih mudah membaca tanda-tanda, sebaliknya semakin buruk hati seseorang menandakan bahwa ia akan semakin sulit membaca tanda-tanda. Dan inilah yang menentukan orang tersebut akan tersesat ataupun tidak dalam kesendiriannya.

          Untuk lebih jelasnya Al akan menerangkangnya sedikit. Kesendirian adalah tempat dimana kita bisa merasakan, memikirkan, mengatakan dan melakukan segala sesuatunya secara jujur dari dalam hati. Di dalam kesendirian itu kita bisa melakukan segala hal tanpa dilihat oleh orang lain. Dan di dalam kesendirian itulah kita melakukannya secara sangat jujur karena hanya Allah yang memerhatikan. Sehingga dalam kesendirian itu kita benar-benar menjadi diri sendiri. Untuk bisa menilai seseorang jujur atau tidak maka nilailah saat ia sendiri karena ketika berada di depan banyak orang masih banyak ‘kebohongan’ yang dilakukannya.

          Selanjutnya apa yang disebut dengan kesepian? Telah disinggung di atas bahwa kesepian itu adalah kondisi dimana seseorang tersesat di dalam kesendiriannya. Dan ini banyak sekali kasusnya yang dialami oleh anak muda dan remaja zaman sekarang. Kesepian adalah dimana seseorang tidak bisa membaca tanda-tanda yang ada sehingga ia akan merasa sendiri dan tersesat dalam kesendiriannya. Dan kesepian ini bersifat negatif dibandingkan dengan kesendirian. Kesepian bisa membuat hati seseorang terasa hampa sehingga apapun yang ia lakukan juga akan terasa hampa dan kosong.

          Dan untuk menyikapi hal tersebut tentunya kita perlu mengendalikan diri agar tidak tersesat dalam kesendirian. Pahamilah tanda-tanda yang ada dan tetaplah bersikap jujur terutama saat kita sendiri. Kita bisa menjadi orang yang bijak ketika kita bisa mengendalikan kesendirian. Di dalam kesendirian kita menjadi pribadi dan individu yang berserah kepada Tuhan. Kita mengetahui bahwa dalam kesendirian itu memang tidak ada orang lain yang mengetahuinya, tetapi orang yang bijak selalu lebih berhati-hati saat sendiri karena pada saat itulah hanya Tuhan yang memerhatikannya. Jadi, orang bijak adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya ketika sendiri.

Source image : hipwee.com
          Daripada terlalu panjang, langsung saja di bawah ini adalah puisi yang Al ambil dari lirik lagu penutup anime Angel Beats (Baca disini). Temanya adalah tentang kesendirian. Al tidak akan menjelaskan secara detail seperti biasanya karena Al ingin kepada Al-reader semua bisa memahami kesendiriannya sendiri. Al berharap kepada Al-reader untuk bisa mendalami tentang kesendiriannya menggunakan ‘bahasa’ yang Al-reader sendiri tahu. Tanpa adanya intimidasi-intimidasi dari Al. Itulah mengapa Al tidak menjelaskannya secara panjang lebar seperti biasanya.

          Semoga puisi ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi kepada kita semua agar selalu kuat menghadapi setiap rintangan yang mengahadang. Aamiin.

Source image : bisfren.com

Dalam Sepi
Fahd Al Fauzi

Selalu saja kuberjalan sendiri dalam sepi
Saat kulihat sekitar, semuanya menjauh pergi
Walau begitu, kutetap melangkah maju
Dan kuakan tetap kuat
Ketakutanku t’lah lenyap
Itulah kata-kataku pada diriku
Suatu hari semua orang ‘kan sendiri dalam sepi
Dan hanya ‘kan hidup dalam kenangan
Sehingga kudapat mencintai dan tertawa dalam sepi
Kuterus berjuang kuatkan hati
Dan air mata ini tak ‘kan kutunjukkan padamu lagi

Banyumas, 7 September 2016

Monday, September 5, 2016

Sajak untuk Ayah




Assalamu’alaikum wr. wb
          Haloo, Al-reader semua, yang pastinya keren kaya Al ini, bagaimana kabarnya? Sehat, ya. Pasti udah kangen sama Al ya, ditinggal dua minggu tanpa kata-kata manis yang merindukan (ehm). Oke, langsung aja daripada kelamaan dan malah buat Al-reader tambah kangen, cekidot ke topik pembahasan kali ini. Pada beberapa postingan sebelumnya Al telah membagikan sajak tentang ibu (Baca disini) dan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada ibunda. Tentang jasa-jasa beliau yang sangat besar kepada kita semua sehingga kita sampai saat ini masih sehat dan bugar (olahraga kali, ya). Dan pada kesempatan kali inilah Al akan membagikan sajak tentang Ayah, jadi sebelumnya ada postingan puisi tentang ibu sekarang ada postingan puisi tentang ayah (jadi lengkap, kan). Sehingga Al mengharapkan kepada Al-reader semua untuk tidak hanya bersikap baik kepada ibunda saja tetapi juga harus bersikap baik kepada ayah. Karena mereka berdualah orang tua kita, tanpa adanya ibu kita tidak akan pernah ada dan sebaliknya, tanpa adanya ayah kita juga tidak akan pernah tercipta. Itulah yang menjadi dasar Al menulis postingan pada kesempatan yang indah dan cerah ini (mirip cuaca, ya).

          Seperti yang telah kita tahu bahwa ayah adalah seseorang yang sangat berjasa, terutama kepada kita semua. Hal ini tidak bisa dibantah dan ditolak dengan cara apapun sebagaimana ibu telah berjasa kepada kita jua. Walaupun ayah tidak mempertaruhkan nyawanya saat kita dilahirkan ke dunia, tetapi ayah pasti akan mempertaruhkan segala hal agar kita bisa hidup dalam kecukupan (percayalah). Karena seburuk-buruknya seorang ayah pastilah tidak menginginkan anak dan keluarganya hidup dalam kesengsaraan. Ini dibuktikan secara nyata bahwa ayah adalah tulang punggung keluarga dengan artian segala beban keluarga seperti nafkah, rumah, makanan dan sebagainya ada pada tanggungjawabnya. Hal-hal itu dan masih banyak hal lainnya ada pada punggung dan pundaknya yang senantiasa ia panggul agar keluarganya tidak merasakan beratnya hal tersebut. Tanggungjawab beliau tidaklah ringan karena harus bisa meng-handle seluruh kebutuhan keluarga dengan baik dan amanah. Bahkan banyak di luar sana ayah-ayah yang bekerja tidak mengenal waktu. Berangkat bekerja saat anak-anaknya masih tidur dan pulang bekerja ketika anak-anaknya sudah tidur. Ini tidak berarti bahwa sang ayah tidak sayang kepada keluarganya dengan bekerja sehari penuh, melainkan ini adalah bukti nyata bagaimana sayangnya ayah kepada keluarganya. Segala hasil yang ia raih dari bekerja pastilah hanya untuk keluarga, semua keringat yang ia tumpahkan hanya demi istri dan anak-anaknya bisa tersenyum bahagia, dan bahkan segala usahanya tidak demi dirinya sendiri tetapi juga harus bisa membuat keluarganya hidup dalam kesejahteraan. Dari penjelasan singkat tentang tanggungjawab beliau, tidaklah patut untuk kita meremehkan ayah dengan alasan apapun, apalagi berlagak acuh di depan beliau. Sangat tidak sopan bagi kita sebagai anaknya melakukan hal itu.


          Ayah adalah figur yang paling cepat dicontoh oleh anaknya setelah ibunda. Setiap cara beliau melakukan sesuatu hal ataupun cara berbicaranya pasti akan dicontoh oleh anaknya. Dan di luar sana juga masih banyak sekali contoh figur ayah yang patut kita jadikan panutan dalam hidup selain ayah kita sendiri. Sebagai contoh ada seorang ayah yang rela bekerja hanya sebagai pemulung sampah demi sesuap nasi, ayah tersebut berpanas-panasan untuk mengais sampah di tempat-tempat yang kotor. Mengais rezeki dari sampah yang dibuang oleh orang-orang. Apakah itu sebuah dosa? Tentu bukan. Malah sebaliknya, itu adalah sebuah hal yang mulia karena beliau melakukannya dengan hati yang ikhlas demi keluarganya agar bisa makan bahkan itu hanya nasi dan garam saja. Selama cara-cara yang dilakukan tidak melanggar hukum dan norma-norma yang berlaku, menjadi pemulung tetaplah lebih mulia dibandingkan menjadi pengemis dan turun meminta di jalanan. Dengan kesulitan-kesulitan yang terus dihadapi oleh beliau tanpa henti menghampirinya, beliau tetap melakukannya tanpa rasa mengeluh, karena bagi beliau senyum keluarganya adalah hal yang membuatnya terus bersemangat untuk mencari nafkah. Beliau tidak makan satu haripun tidak mengapa karena yang penting keluarganya bisa kenyang setiap harinya. Keluarga adalah orientasinya untuk terus berusaha dan mencari rezeki setiap harinya. Dari satu contoh figur ayah di atas, kita bisa membayangkan betapa besar jasa beliau, walaupun tanpa hasil yang besar dari hasil memulung sampah, tetapi dengan rasa syukur yang meliputi dalam keluarganya, itulah hal yang akan membuat rezeki menjadi berkah.

          Sebagai contoh figur ayah lain yang patut dicontoh adalah ayah yang membawa anaknya dengan becak. Anaknya yang tidak bisa berjalan karena sakit terus dibawa oleh ayahnya kemanapun dengan becak yang dikayuhnya. Beliau tidak memiliki rumah sehingga hal ini dilakukannya setiap hari. Beliau terus mengayuh becaknya keliling kota untuk menjual barang dagangannya yang diangkut bersama dengan anaknya di atas becak. Betapa kuatnya beliau menanggung setiap cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya tanpa rasa menyesal ataupun mengeluh. Beliau bisa mengemis di jalanan (dengan hasil yang lebih tinggi) tetapi beliau lebih memilih untuk berjualan dengan berkeliling kota. Beliau memiliki prinsip bahwa mengemis hanya untuk orang-orang yang lemah, selama Tuhan masih memberinya kekuatan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lakukanlah. Karena nikmat yang dinamakan sehat itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.


          Dari kedua contoh ayah di atas, kita bisa mengambil hikmah dan manfaat untuk kehidupan (khususnya untuk diri sendiri). Bahwa ayah adalah figur yang tidak kalah penting bagi kita untuk menghormati, menyayangi, menghargai dan menggembirakannya. Mengingat banyaknya jasa yang telah beliau berikan kepada kita semua, memuliakannya adalah balasan yang paling baik dari kita kepada ayahanda.

          Di sisi lain, waktu teruslah berjalan dan tanpa henti. Begitupun kehidupan yang selalu datang bersamaan dengan halangan yang menghadang. Dari masalah-masalah yang kecil hingga masalah-masalah yang besar. Kehidupan memang selalu seperti layaknya angin ribut, datang merusak segalanya. Tetapi bagi insan yang memiliki pondasi dan pegangan yang kuat pastilah bisa bertahan akan semua itu. Dan ini bisa kita ambil dari kedua sosok ayah di atas. Dengan segala keterbatasan dan cobaan yang beliau dapatkan, keyakinan yang dimilikinya masih tetap kuat untuk berpegang teguh dalam kebenaran.


Pastinya setiap ayah menasihati anaknya agar selalu melakukan hal yang baik (jika ada yang memerintahkan untuk keburukan, perlulah sifat ke-ayah-annya dicek). Beliau melakukannya tanpa alasan yang lain kecuali agar anaknya bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Beliau mengajarkan sedari kita kecil untuk selalu berperilaku baik kepada siapapun (bahkan ada yang masih sering menasihati sampai anaknya dewasa). Dari mulai kita diajari untuk bersalaman sampai dengan kita diajari untuk berbicara yang sopan kepada orang lain. Dari hal-hal yang kecil sampai dengan hal-hal yang besar, dari hal-hal yang menyangkut tentang keduniawian sampai dengan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat.

Melanjutkan paragraf sebelumnya, berhubungan dengan akhirat, pastinya setiap ayah mengajarkan tentang spritual dan agama, kan. Sebagai salah satu contohnya adalah di dalam Islam pastinya kita diajarkan tentang Al-Quran. Saat kita masih anak-anak, ayah mengajarkan dan membimbing kita untuk bisa membaca Al-Quran dengan baik. Pertama, kita dikenalkan dengan huruf hijaiyah. Selanjutnya kita dibimbing agar bisa membaca Iqro. Dan langkah selanjutnya kita diajarkan untuk menghafal do’a-do’a pendek yang biasa kita gunakan sehari-hari. Dan pada akhirnya kita diajarkan untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Beliau melakukannya dengan penuh rasa ikhlas dan sabar (tentunya kita sangat rewel dulu), tanpa mengharapkan uang ataupun harta yang lain. Beliau hanya ingin anaknya bisa berguna dan bermanfaat bagi agamanya. Selain dengan cara di atas, ayah juga mengajarkan kita lewat gerak-gerik dan ucapan dalam kesehariannya. Dimulai dengan bagaimana ia melafalkan setiap ayat-ayat Al-Quran dengan baik sampai dengan mencontohkan cara bekerja dan belajar yang benar. Itu semua beliau lakukan setiap harinya agar bisa dicontoh oleh anaknya (kalau dari Al, ayah memang top).


          Dari setiap pembelajaran yang kita dapat dari figur ayah, pastinya sangat banyak yang dapat kita contoh dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ingatlah bahwa waktu teruslah berjalan, segala hal pastinya akan berubah dalam waktu cepat ataupun lambat tanpa terkecuali. Ayah yang dulu selalu semangat membimbing kita setiap harinya semasa muda, mulai tidak bisa mengajarkan banyak hal kepada kita karena usia yang telah menua. Ayah yang dulu selalu menitah kita untuk belajar berjalan, sekarang telah susah hanya sekedar untuk berdiri. Waktu terus berjalan seiring dengan perubahan yang tiada henti terus menghampiri. Kita yang dulu kecil dan selalu manja kepada ayah telah tumbuh menjadi seseorang yang dewasa dan memiliki pegangan hidup yang kuat. Dan apa yang akan kita lakukan? Sebagai manusia yang dewasa kita harus bisa menjalankan amanat yang beliau sampaikan kepada kita saat muda, yaitu jadilah seseorang yang bermanfaat bagi sesama. Lakukanlah banyak hal yang membuat perubahan ke arah yang lebih baik dalam masyarakat. Lakukanlah hal-hal yang hebat dan berdampak pada lingkungan dimana kita tinggal. Dan lakukanlah segala hal yang membuat ayah kita bangga atas apa yang kita perbuat kepada sesama. Pada dasarnya setiap hal yang baik adalah sesuatu yang pastinya akan membuat ayah kita tersenyum bangga atas anaknya. Jadi, hanya lakukanlah hal yang hebat dan baik saja.


          Selanjutnya, contoh di atas adalah bagaimana kita berperan sebagai manusia yang dewasa dan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai anak dari ayah? Seiring beliau menua dan tidak bisa melakukan banyak hal seperti dulu lagi, maka jadilah kita sebagai “jembatan” bagi keinginan beliau untuk tercapai. Karena pastinya setiap manusia memiliki cita-cita dan dari cita-cita itu ada yang belum bisa terlaksana. Kita sebagai anaknya harus bisa menjembatani dan membantu cita-cita ayah yang belum terlaksana itu. Sebagai contoh, jika ayah ingin membangun sebuah panti asuhan dan keinginan tersebut belumlah tercapai, maka kita sebagai anak berkewajiban untuk mewujudkan cita-cita tersebut secara maksimal. Di sisi lain kita juga harus merawat dan menyayangi beliau dengan sepenuh hati. Janganlah mengharapkan yang muluk-muluk, rawatlah beliau, sayangilah beliau. Itulah hal yang bisa kita lakukan sebagai anak yang berbakti kepada ayah.

          Lalu bagaimana jika kita tidak bisa menjadi “jembatan” cita-cita beliau untuk tercapai? Kita pastinya tahu bahwa ayah adalah sosok dan figur yang memiliki rasa kewibawaan dan kebijaksanaan yang tinggi. Beliau tidak akan sedih bahkan jika keinginannya tidak  bisa tercapai dengan baik. Yang perlu kita lakukan hanya berusaha sebaik mungkin agar cita-cita tersebut bisa tercapai. Masalah keinginan tersebut bisa tercapai dengan sukses ataupun gagal adalah hal yang tidak terlalu penting. Karena yang terpenting adalah usaha kita yang maksimal untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita ayah tercinta.


          Dan pesan terakhir dari Al untuk kita semua adalah jangan sampai lupa untuk mendo’akan yang terbaik bagi ayahanda. Tidak ada yang lebih baik dari do’a seorang anak yang sholeh/sholehah kepada ayahandanya. Entah itu saat ayahanda masih hidup ataupun sudah meninggal. Do’akanlah beliau dengan perasaan yang ikhlas. Bagi ayahandanya yang masih hidup do’akanlah agar beliau tetap sehat dan dapat terus menemani kita dalam waktu yang lama. Habiskanlah waktu dengan beliau dengan bercerita tentang hal-hal yang beliau sukai (jangan malah bercerita hal yang aneh bagi beliau). Rawatlah beliau dengan sepenuh hati karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana waktu merenggut segalanya tanpa pemberitahuan. Sekali lagi, do’akanlah dan rawatlah beliau.

          Bagi Al-reader yang telah ditinggal oleh ayahanda untuk selama-lamanya janganlah bersedih hati. Beliau tetaplah hidup sebagai jiwa pada diri Al-reader. Senangkanlah jiwa beliau dengan selalu mendo’akannya agar bisa ditempatkan dalam tempat yang mulia. Tidak ada yang lebih baik yang bisa kita lakukan selain mendo’akannya dalam kebaikan. Lakukanlah hal-hal yang membuat beliau tersenyum lebar di alam sana. Bantulah orang lain dan jadilah seseorang yang bermanfaat bagi banyak orang, tentulah itu adalah sebuah harapan bagi setiap ayah. Usahakanlah yang terbaik untuk mewujudkan harapan beliau yang belum sempat tercapai. Dan jadilah sebuah “jembatan” yang kokoh, yang bisa menjadi jalan bagi perubahan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Semoga kita bisa menjadi seorang anak yang sesuai dengan apa yang ayahanda inginkan. Aamiin.


          Mungkin hanya itu yang bisa Al sampaikan pada kesempatan kali ini. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan dan penyampaian dalam postingan ini. Semoga dengan penjelasan singkat yang Al tulis di atas tentang ayah bisa mengubah pandangan kita kepada ayah untuk jauh lebih baik lagi. Karena tanpa jasanya kita tidak akan bisa menjadi manusia seperti sekarang ini -manusia yang sukses dan memiliki jabatan yang tinggi dalam masyarakat- dan tidak akan bisa bermanfaat bagi sesama. Al tekankan sekali lagi bahwa jasa-jasa beliau sangatlah besar untuk setiap dari kita.

Dan sekarang adalah waktunya Al untuk membagikan sajak seperti sebelum-sebelumya. Sajak kali ini berjudul “Ayahku”, yang menceritakan betapa besar jasa-jasa beliau kepada anaknya yaitu kita. Semoga bisa menginspirasi serta bermanfaat, dan terimakasih atas perhatian dari Al-reader semua. Sampai jumpa lagi di postingan selanjutnya. See you.


Ayahku
Fahd Al Fauzi

Engkau pergi lewati tapal batas demi sesuap nasi
Melawan kerasnya hidup yang terus menghimpit tanpa ampun
Dengan banyakmya peluh menyelimuti tubuh
Kau tetap tegar menghantam masa
Pundak yang semakin lapuk terus kau paksa memanggul beban
Beban yang kini bak gunung menjulang
Membuat punggung yang dulu tegak sekarang membungkuk mendekat Illahi
Tatkala wajah tegasmu siratkan kuatnya diri
Namun gurat-gurat halus yang tergambar tak sedemikian menutupi
Pahitnya dunia selalu kau kecap tanpa rasa keluh
Kaki yang dulu berlari gagah penuh keyakinan sekarang hanya melangkah pelan lewati lika-liku zaman
Tangan yang dulu kekar mencengkeram sekarang hanya mampu menggenggam dengan lemah
Seiring tubuh semakin redup lintasi waktu
Kau ajarkan nilai lewat sebuah senyum
Tetap pada sebuah buku tebal yang kau tunjuk sebagai pedoman
Buku yang kau lafal tiada henti dengan suara merdu
Lantunan yang buat alam pun diam sejenak meresapi
Sebagai benteng setia di dalam hati

Wahai ayahku tercinta, tiada terimakasih yang dapat membalas jasamu
Bahkan emas tak dapat membayar peluhmu yang jatuh
Bahkan berlian pun tak bisa mengganti air matamu yang menetes
Bahkan bergelimangnya uang tak ‘kan cukup membayar ilmu dari titahmu
Namun, perkenankanlah do’a yang terucap lirih ini sepanjang malam
Do’a yang selalu keluar dari hati dengan tetesan air mata
Berharap bisa membayar hutang kepadamu
Walau ku tahu bahwa itu mustahil ‘tuk terjadi

Banyumas, 10 Juli 2016

Gambar

#Jangan lupa share ya (ada di bawah sumber gambar) :)

Sumber gambar :